Jumat, 08 Juni 2018

Antara Cinta, Tahta, dan Keluarga


Refleksi Budaya
Kethoprak “Rembulan Kekalang”
Oleh : Nurrina Rhomadita / 15301241026 / Pendidikan Matematika I 2015
Dalam rangka memperingati Dies Natalis UNY ke- 54, UNY menyelenggarakan sebuah pagelaran kethoprak. Pagelaran kethoprak ini lain dengan pagelaran pada umumnya, karena para pemeran dalam pagelaran ini adalah Rektor, para Guru Besar, dan dosen – dosen UNY. Kisah ini dimulai ketika Pangeran Sepuh Purbaya (diperankan oleh Prof. Marsigit, M.A.) memilih turun tahta kerajaan karena sudah saatnya tahta kerajaan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Pangeran Sepuh Purbaya kemudian menunjuk Pangeran Hadi Mataram (diperankan oleh Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.) sebagai Ratu Kerajaan Mataram selanjutnya. Pada posisi patih, Patih Singoranu (diperankan oleh Drs. Saliman M.Pd) juga memilih untuk pensiun dalam mengemban tugasnya, dan menginginkan adanya regenarasi dalam posisinya tersebut. Para Tumenggung tidak menyetujui keinginan Patih Singoranu untuk pensiun, kecuali Tumenggung Pasingsingan (diperankan oleh Drs. Sarjiwo, M.Pd.). Disini, Tumenggung Pasingsingan merasa memiliki kesempatan emas untuk memperoleh posisi Patih tersebut. Tidak sejalan dengan pendapat Tumenggung Pasingsingan, Ratu Amengkurat sependapat dengan tumenggung yang lain untuk mempertahankan Patih Singoranu, tetap menjadi patih di Kerajaan Mataram, karena merasa dirinya masih baru dan membutuhkan bimbingan dari orang yang berpengalaman. Mengetahui hal tersebut, Tumenggung Pasingsingan merasa tersinggung dan dinilai tidak memiliki pengalaman dalam pemerintahan kerajaan, akhirnya memilih mangkir dan pergi dari pertemuan itu.
Di sisi lain, Pangeran Harya Timur (diperankan oleh Alfian Anggoro) yang tidak lain merupakan adik dari Ratu Amengkurat, sedang dimabuk asmara akan pesona dan kecantikan dari Rara Mangli (diperankan oleh Sri Hertanti Wulan, M.Hum) yang merupakan putri dari Tumenggung Pasingsingan. Pangeran Harya Timur yang sedang dimabuk cinta, berniat ingin meminang Rara Mangli untuk sebagai istrinya, akan tetapi Rara Mangli memberikan syarat kepada Pangeran Harya Timur agar bisa menikahinya. Syarat yang diberikan Rara Mangli kepada Pangeran Harya Timur adalah Tahta Kerajaan Mataram jatuh ke tangan Pangeran Harya Timur. Mengetahui hal tersebut, Pangeran Harya Timur tidak setuju dengan syarat yang diajukan Rara Mangli agar bisa menikahinya, karena dengan syarat itu Pangeran Harya Timur harus menyingkirkan kakaknya sendiri, Ratu Amengkurat dari posisinya saat ini. Mengetahui sikap Pangeran Harya Timur keberatan dengan syarat yang diberikan putrinya, Tumenggung Pasingsingan mengambil tindakan untuk menyingkirkan Ratu Amengkurat sendiri, sekaligus sebagai ajang balas dendam kepada Ratu Amengkurat yang telah menyinggung dan menghinanya.
Ketika Tumenggung Pasingsingan akan merealisasikan untuk membunuh Ratu Amengkurat, niatan ini diketahui oleh salah satu asisten rumah tangga Tumenggung Pasingsingan, lalu cepat – cepat dia melaporkan hal tersebut kepada suaminya yang merupakan panglima perang Kerajaan Mataram. Mengetahui niatan Tumenggung Pasingsingan, prajurit kerajaan menyusun strategi untuk menangkap Tumenggung Pasingsingan. Dan strategi tersebut berhasil, ketika Tumenggung Pasingsingan mengendap – endap masuk dengan mudah dapat ditangkap oleh Panglima Perang Kerajaan Mataram.
Mengetahui kejadian itu, Ratu Amengkurat memanggil Pangeran Harya Timur untuk menanyakan kejadian yang terjadi akibat ulahnya. Pangeran Harya Timur meminta maaf kepada Ratu Amengkurat, akan tetapi Ratu Amengkurat meminta Pangeran Harya Timur untuk menyingkirkan istrinya, Rara Mangli karena cinta butanya kepada Rara Mangli, Pangeran Harya Timur harus berusaha memperoleh tahta Kerajaan Mataram yang bukan seharusnya menjadi haknya. Karena rasa bersalahnya ini, Pangeran Timur melaksanakan perintah kakaknya dan ia membawa keris sakti pemberian Ratu Amengkurat untuk menyingkirkan Rara Mangli. Ketika Pangeran Harya Timur menghamipiri sang istri, dengan penuh amarah dia memarahi Rara Mangli sebagai penyebab retaknya hubungannya dengan Ratu Amengkurat, kakaknya. Seakan tidak mau disalahkan, Rara Mangli berpura – pura tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh suaminya ini. Rara Mangli melakukan hal yang sebaliknya, dia menyalahkan cinta Pangeran Harya Timur kepada Rara Mangli.
Pangeran Harya Timurpun, tertipu kepolosan dan keluguan dari Rara Mangli, akhirnya dia kembali ke kerajaan untuk melakukan keinginan dari istrinya, membunuh Ratu Amengkurat. Namun sayangnya, dalam perjalanan menjalankan niatnya, Pangeran Harya Timur selalu dihadang – hadangi oleh beberapa kerabat yang ingin mencegah niatan Pangeran Harya Timur. Semuanya gagal, semuanya gagal mencegah niatan Pangeran Harya Timur untuk mencegahnya. Hingga saatnya Pangeran Sepuh Purbaya ikut turun tangan mencegah tindakan Pangeran Harya Timur. Bukannya sadar dan meminta maaf kepada Pangeran Sepuh Purbaya, tetapi Pangeran Timur melawan Pangeran Sepuh dengan keris Ratu Amengkurat. Alih – alih bisa membunuh Pangeran Sepuh, yang terjadi adalah Pangeran Timur dapat ditaklukan dan dibawa ke penjara istana untuk diadili.
Sementara itu, Rara Mangli merasa kesepian karena kehilangan ayah dan suaminya, kini mulai menyadari perbuatannya. Dia merasa bersalah atas perbuatannya ayah dan suaminya harus menjadi korban demi mewujudkan keegoisannya. Akhirnya Rara Mangli memilih mengakhiri hidupnya dan menyusul ayahnya, karena merasa sudah tidak berguna lagi hidupnya.
Cerita ini menarik karena dalam cerita ini mengisyaratkan bahwa tidak semua cinta itu tulus dan suci, tetapi terdapat cinta yang hanya sekedar sebagai batu loncatan untuk menggapai keinginan hawa nafsu belaka. Setulus apapun cinta, sebaik apapun pasangan kita dan secantik atau serupawan pasangan kita, jika ia menginginkan adanya suatu kehancuran dalam keluarga, maka itu bukanlah cinta. Cinta yang indah, adalah mau mencintai pasangan dan keluarga pasangan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar